Tes Kemampuan Akademik atau TKA mengukur capaian akademik murid pada mata pelajaran tertentu, tetapi tidak menentukan kelulusan. Keikutsertaannya bersifat tidak wajib; keputusan kelulusan tetap berada pada satuan pendidikan berdasarkan penilaian sekolah.
Kehadiran TKA memunculkan pertanyaan di kalangan siswa dan orang tua, terutama karena tes ini dilaksanakan pada jenjang akhir pendidikan. Ada yang mengaitkannya dengan ujian kelulusan, ada pula yang menyamakannya dengan Asesmen Nasional. Memahami tujuan, materi, dan penggunaan hasil TKA dapat membantu keluarga mengambil keputusan berdasarkan informasi yang tepat.
Apa Itu Tes Kemampuan Akademik?

Tes Kemampuan Akademik merupakan asesmen terstandar untuk memberikan gambaran capaian akademik murid dalam mata pelajaran tertentu. Pusat Asesmen Pendidikan menjelaskan bahwa TKA dihadirkan sebagai informasi pembanding yang dapat memperkuat kredibilitas hasil penilaian, terutama ketika capaian murid dari sekolah yang berbeda perlu dipertimbangkan dalam suatu proses seleksi.
Siapa yang dapat mengikuti TKA?
Menurut laman resmi Pusat Asesmen Pendidikan, murid kelas akhir pada jenjang SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, dan SMK/MAK atau sederajat dapat mengikuti TKA. Cakupannya meliputi jalur pendidikan formal, nonformal, dan informal sesuai ketentuan yang berlaku.
Karena sifatnya tidak wajib, murid dan orang tua perlu memahami manfaat hasil tes sesuai kebutuhan masing-masing. Sekolah dapat membantu menjelaskan informasi pendaftaran dan mata pelajaran yang relevan. Penjelasan itu penting agar siswa tidak mengikuti tes hanya karena mengira TKA merupakan syarat untuk lulus.
Apakah Tes Kemampuan Akademik Menentukan Kelulusan?
Tidak. Pusat Asesmen Pendidikan menegaskan bahwa hasil TKA tidak menentukan kelulusan dari satuan pendidikan. Kelulusan diputuskan oleh sekolah berdasarkan hasil penilaian yang dilakukan satuan pendidikan. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah juga kembali menegaskan hal tersebut dalam informasi pelaksanaan TKA tahun 2026.
Apa bedanya dengan Asesmen Nasional?
Perbedaan utamanya terletak pada tujuan dan pelaporan hasil. Asesmen Nasional digunakan untuk mengevaluasi sistem pendidikan, dengan hasil pada tingkat satuan pendidikan dan daerah. TKA mengukur capaian akademik pada mata pelajaran tertentu, dan murid yang mengikutinya memperoleh hasil individu.
TKA juga tidak mengukur literasi dan numerasi umum dengan cara yang sama seperti Asesmen Nasional. Menurut penjelasan Pusat Asesmen Pendidikan, soal TKA mengacu pada kompetensi mata pelajaran sesuai kurikulum, dengan penekanan pada penalaran dan pemecahan masalah. Artinya, persiapan yang baik perlu mencakup pemahaman konsep serta kemampuan menerapkannya, bukan sekadar menghafal jawaban.
Mata Pelajaran Apa Saja yang Diujikan?
Mata pelajaran TKA berbeda menurut jenjang pendidikan. Pada SD/MI dan SMP/MTs atau sederajat, mata pelajaran yang diujikan adalah Bahasa Indonesia dan Matematika. Pada SMA/MA serta SMK/MAK atau sederajat, mata pelajarannya meliputi Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris, dan dua mata pelajaran pilihan.
Memilih mata pelajaran pada jenjang SMA dan SMK
Murid pada jenjang menengah atas memilih dua mata pelajaran dari daftar pilihan yang tersedia. Pusat Asesmen Pendidikan menyarankan satuan pendidikan memberi arahan agar pilihan tersebut selaras dengan minat murid dan rencana studi lanjutnya. Pemilihan dilakukan pada saat pendaftaran TKA.
Karena itu, siswa sebaiknya tidak memilih mata pelajaran hanya berdasarkan anggapan bahwa satu bidang lebih mudah daripada bidang lainnya. Pertimbangkan pelajaran yang telah dipelajari, kemampuan yang ingin ditunjukkan, dan rencana setelah lulus. Guru bimbingan konseling serta guru mata pelajaran dapat menjadi tempat berdiskusi sebelum pilihan ditetapkan.
Untuk Apa Hasil TKA Digunakan?
Hasil Tes Kemampuan Akademik menyediakan informasi capaian individu yang dapat digunakan sesuai ketentuan pada proses yang memerlukannya. Kementerian menjelaskan bahwa TKA berfungsi sebagai penguat kredibilitas penilaian sekolah, bukan pengganti seluruh bentuk penilaian yang sudah ada.
Hasil tes perlu dibaca sesuai konteks
Hasil TKA dapat membantu siswa melihat kemampuan pada mata pelajaran yang diikuti. Namun, satu hasil tes tidak menggambarkan seluruh kemampuan, minat, atau perkembangan seorang murid. Nilai rapor, pengalaman belajar, dan persyaratan pada jalur pendidikan berikutnya tetap perlu diperhatikan sesuai tujuan masing-masing.
Bagi orang tua, hasil tes dapat menjadi bahan percakapan yang lebih konkret dengan anak dan sekolah. Jika ada materi yang belum dikuasai, pembahasannya dapat diarahkan pada cara belajar yang perlu diperbaiki. Hasil tersebut sebaiknya digunakan untuk memahami kebutuhan belajar, bukan membandingkan anak secara serampangan dengan teman-temannya.
Bagaimana Siswa Mempersiapkan Diri?
Persiapan dapat dimulai dengan melihat kerangka asesmen yang diterbitkan kementerian. Pusat Asesmen Pendidikan menyatakan bahwa informasi mengenai materi atau kompetensi yang diukur, termasuk contoh soal, tersedia untuk publik. Dari sana, siswa dapat mengenali ruang lingkup tes sebelum menyusun jadwal belajar.
Utamakan pemahaman dan latihan bertahap
Siswa dapat meninjau kembali konsep utama, berlatih memahami pertanyaan, lalu memeriksa alasan di balik jawaban yang benar maupun keliru. Latihan bertahap juga membantu mengenali bagian yang masih sulit tanpa harus belajar berlebihan menjelang tes. Untuk urusan jadwal dan pendaftaran, ikuti pemberitahuan resmi sekolah karena pengaturannya perlu disesuaikan dengan pelaksanaan yang berlaku.
Pada akhirnya, Tes Kemampuan Akademik memberi tambahan informasi tentang capaian belajar tanpa menjadi penentu kelulusan. Simak artikel pendidikan lainnya di Nusa Harian Seputar untuk mengikuti penjelasan kebijakan sekolah dan pembelajaran berdasarkan sumber resmi.
